Three Steps to Increase Aquaculture Output in Indonesia/Cara-Cara Meningkatkan Hasil Aquakultur di Indonesia

Fresh shrimp on the grill

Fresh shrimp on the grill

 (SCROLL DOWN FOR INDONESIAN VERSION)

While Indonesia has tremendous potential in for aquaculture, there is still vast potential to be fulfilled and a large opportunity to increase their share of the global aquaculture market.

As the world’s largest archipelagic country with the longest coastline after Canada, Indonesia has the potential produce more than any other neighbouring countries.


Indonesia has 24 million hectares of coastal waters which seem suitable for developing mariculture system that has a sustainable potential around 60 million tonnes per year, making it potentially the largest one on the planet together with China. About 3 million hectares of its coastal lands are also good for developing aquaculture, mainly in brackish water ponds. In total, 30 % of total territory in Indonesia would be appropriate for advancing freshwater aquaculture system.


If such potentials were to be managed well, it would contribute to Indonesia’s national income of 200 billion dollars annually and opened job opportunities for at least 30 million of its people.


Based on the data issued by the Ministry of Maritime and Fisheries of the Republic of Indonesia, until now only 16% of total mariculture potentials; 8% of total aquaculture potentials developed in ponds; and 19% of total freshwater aquaculture potentials have been explored. Although since 2009, Indonesia has become the worlds’ second largest producer for aquaculture products after China, the growth potential of the aquaculture sector in the country is still very large.


Currently there are three programs offered to maximize aquaculture production:

1. Revitalizing the existing aquaculture businesses in marine areas, freshwater and brackish water ponds, freshwater cages and paddy fields.

The sole goal of this program is to increase productivity, efficiency as well as guarantee economic sustainability for stakeholders in this sector, in order to increase self-sustenance at the least. Based on an assessment taken by the Food and Agriculture Organization (FAO) of the United Nations, fish production through aquaculture in Indonesia has significantly increased since the late 1980s, mainly for commodities such as tilapia, carp, milkfish and shrimp. Also according to the Organization, aquaculture systems in Indonesia have played a prominent role in providing food security and improving the living standards of poor rural communities including those living in the hinterland.

Therefore, revitalizing the aquaculture-related aspects by utilizing modern technology and best practice methods is required,. This however requires conducting much research in the field.

For the time being in Indonesia, the Ministry of Marine and Fisheries Affairs together with the Agency for Study and Assessment of Technology (BPPT) and the Indonesian Science Institute (LIPI) are responsible for researching the issue. They coordinate with experienced farmers and other stakeholders to find out the best method to revitalize the existing aquaculture system and reduce its potential risks by considering the further negative impacts to the environment.

2. Expanding aquaculture business further than Java Island, well known as the center of aquaculture development


The goal of the program is to distribute economic prosperity to local people living in other islands in Indonesia, in order to further increase the so-called belt prosperity.


So far, aquaculture system developed in Java island particularly freshwater aquaculture has dominated fish output in Indonesia. Arguably many farmers living in other islands have preferred mariculture system to freshwater such as pearl and seaweed farming as it required more financial supports compared to freshwater aquaculture system. Accordingly, the Indonesian government has been struggling to convince them to embark on developing freshwater aquaculture system as their new business. One of the efforts the government has taken is to educate farmers in order to raise their skill and make them aware of the opportunity lying within well designed freshwater aquaculture operations.


3. Diversifying aquaculture products

Sadly despite being endowed with rich natural water resources and abundant aquatic biodiversity, Indonesia has yet to harness them well. It is well known that until 2014 Indonesia has cultured no more than 25 species, while China with less aquatic biodiversity has succeeded to culture around 125 species.

As a matter of fact, in order to reach such a goal the Indonesian government through its institution called the National Broodstock Centre (NBC) has played a significant role to find out other potential species to be farmed. Still, such an effort could be maximized in the foreseeable future.


In order to help the government realize the aforementioned strategies, building up a professional, local startup constitutes one of the best initiatives could be offered.

HATCH visiting shrimp farmers in Indonesia

HATCH visiting shrimp farmers in Indonesia

 

Efforts like the HATCH Blue accelerator program and our new Singapore office location, are set in motion to help prepare local startups dealing with aquaculture systems professionally and raise the level of technology in the entire region, making resource use more efficient and promoting sustainable growth.


HATCH holds a 15 week program driven by its experienced mentors and staff to share their entrepreneurial and aquaculture technology experience with participating teams worldwide. We are still taking application until the 28th of June, for further information visit our official website at www.hatch.blue.com

(INDONESIAN VERSION)

Cara-Cara Meningkatkan Hasil Aquakultur di Indonesia

Meskipun pada kenyataannya Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam sektor Aqualkutur, namun sayangnya telah terbukti bahwa para pemangku kepentingan lokal belum mengeksplorasi potensi-potensi dengan menggandakan hasil aqualkuturnya demi memenuhi berbagai permintaan yang timbul baik dari pasar domestik maupun luar negeri.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang setelah Kanada, Indonesia seharusnya berhak lebih jika dibandingkan dengan para negara tetangga manapun.
Ditambah lagi, Indonesia memiliki 24 juta hektar perairan pantai yang nampak cocok untuk pengembangan sistem marikultur yang memiliki potensi berkelanjutan sekitar 60 juta ton per tahun (terbesar di planet). Sekitar 3 juta hektar daratan pesisirnya juga cocok untuk pengembangan aquakultur, khususnya pada pertambakan air payau. Secara umum dapat dikatakan, 30 persen dari keseluruhan tanah Indonesia memang cocok untuk memajukan aquakultur air tawar.
Karena itulah tak berlebihan jika potensi-potensi itu dikelola secara baik, itu akan dapat berkonstribusi kepada pendapatan nasional dalam negeri sebesar 200 miliar dollar per tahunnya dan juga membukan kesempatan kerja bagi sekurang-kurangnya 30 juta rakyatnya.
Berdasarkan datan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, hingga sekarang hanya 16 persen potensi marikultur, 8% dari potensi aquakultur yang dikembangkan melalui area pertambakan, serta 19% dari total potensi aquakultur air tawar yang telah dieksplor sedemikian rupa. Artinya sektor aquakulutur di tanah air masih terbuka lebar. Dengan menimbang fakta-fakta di atas, maka tak berlebihan jika sejak tahun 2009, Indonesia telah menjadi negara produsen hasil-hasil aquakultur terbesar kedua setelah China.
Sekarang ini, ada beberapa program yang ditawarkan untuk meningkatkan hasil aquakultur yang mencakup :


1. Menghidupkan kembali bisnis aquakultur yang telah ada termasuk pada area pesisir pantai, pertambakan air tawar dan air payau, kurungan air tawar dan tanah persawahan.

Tujuan satu-satunya dari program ini adalah untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi juga untuk menjamin keberlangsungan ekonomi bagi para pemangku kepentingan pada sektor tersebut supaya hal tersebut dapat memenuhi setidaknya kebutuhan sehari-hari mereka.

Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh organisasi FAO (Food and Agriculture Organization) PBB, produksi perikanan melalui aquakultur di Indonesia telah meningkat sejak akhir tahun 1980-an, utamanya terhadap beberapa komoditas besarnya seperti udang, ikan nila, ikan emas dan ikan bandeng. Juga menurut organisasi yang sama, sistem aquakultur di Indonesia telah memainkan peranan yang penting dalam menyediakan pangan yang cukup serta memperbaiki standar hidup masyarakat miskin di pedesaan, termasuk mereka yang hidup di pedalaman.

Karena itulah, menghidupkan kembali segala aspek yang terkait dalam aquakultur dengan menggunakan teknologi paling mutakhir dan metode tercanggihnya sangatlah diperlukan, yang akibatnya penyelenggaran riset secara penuh dalam bidang tersebut pastilah dibutuhkan.

Sekarang ini di Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bertanggung jawab dalam melakukan riset terhadap isu tersebut. Mereka akan memberikan berbagai usahanya dan melakukan koordinasinya dengan para penambak dan pemangku kepentingan lainnya untuk mencarikan metode terbaiknya dalam menghidupkan sistem aquakulturnya serta mengurangi potensi resiko dengan mempertimbangkan dampak-dampak selanjutnya terhadap isu-isu lingkungan.


2. Memperluas bisnis aqualkultur ke luar pulau Jawa yang dikenal sebagai pusat pengembangan aquakultur.


Tujuan dalam program ini yaitu untuk mendistribusikan kesejahteraan ekonomi kepada warga lokal yang hidup di pulau-pulau lainnya di Indonesia, dimana hal tersebut akan menciptakan apa yang dinamakan dengan sabuk kesejahteraan yang akan mengarahkan ke tujuan terakhir lainnya yaitu terciptanya sabuk keamanan.
Sejauh ini, sistem aquakultur yang dikembangkan di pulau Jawa, khususnya aquakultur air tawar telah mendominasi hasil perikanan di Indonesia. Bisa dikatakan para pengembang biak yang hidup di pulau-pulau lainnya lebih memprioritaskan sistem marikultur daripada air tawar seperti pengembangbiakan mutiara dan rumput laut, disebabkan hal tersebut tidak banyak memerlukan dukungan pendanaan jika dibandingkan dengan sistem aquakultur air tawar.
Akibatnya, Pemerintah Indonesia telah berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan mereka supaya mereka dapat memulai pengembangan sistem aquakultur air tawar sebagai bisnis baru mereka. Salah satu upaya Pemerintah adalah dengan mempersiapkan para pengembang biak lokal dengan kemampuan-kemampuan yang lebih canggih.

3. Diversifikasi produk-produk aquakultur

Sangat disayangkan, meskipun dianugerahi dengan sumber air alam yang kaya dan keanekaragaman hayati perairan yang melimpah, Indonesia belum memanfaatkan hal tersebut secara baik. Diketahui bahwa hingga tahun 2014 Indonesia telah mengembangbiakan tidak lebih dari 25 spesies, sementara China dengan keanekaragaman hayati perairan yang lebih sedikit ternyata telah sukses mengembang biakan sekitar 125 spesies.

Pada kenyataannya, untuk meraih tujuan tersebut, Pemerintah Indonesia melalui institusinya yang dinamakan National Broodstock Centre telah memainkan peranan signifikan dalam mencari spesies potential lainnya untuk dikembangbiakan. Tetap saja, usaha seperti itu dapat dimaksimalkan di masa mendatang.

Untuk membantu Pemerintah merealisasikan strategi-strategi di atas, membangun sebuah startup lokal yang profesional merupakan salah satu inisiatif terbaiknya yang bisa ditawarkan. Untungnya, HATCH, didirikan oleh Alimented Ventures, dan juga telah membuka kantornya salah satunya di Singapura, akan membantu mempersiapkan startup-startup lokal yang membidangi berbagai sistem aquakultur secara professional.

Dalam hal ini, HATCH menyelenggarakan program selama 15 minggu yang diarahkan oleh para mentor berpengalamannya untuk membagikan pengalaman berbisnis dan aquakulturnya kepada tim-tim yang berpartisipasi dari seluruh dunia. Untuk informasi lebih jelasnya, disarankan untuk mengunjungi website resminy di www.hatch.blue.com.

 

Moritz Mueller